Kelindan Hati Yang Telah Lama Mati

Lagi-lagi langit pagi itu begitu kelabu dengan gumpalan awan yang enggan bergerak tinggalkan titik-titik singgasana, seolah mereka memahami bahwa ada hati yang tengah berteduh di bawah naungannya.

Lagi-lagi burung pagi itu tak berkicau sebagaimana mereka ramai menyapa di tiap aku membuka mata, seolah mereka merasakan bahwa ada rasa yang masih enggan untuk terucap hingga habis masa.

Tiba pada sebuah petang yang mengantarkanku menuju pusat kelindan hati yang saya kubur dalam-dalam sebab degupnya telah lama mati.

Petang itu begitu terasa dingin, sama seperti petang di bulan lalu hari kemarin.

Aku kembali menyaksikan bagaimana semburat keunguan di kaki langit barat melambaikan merah sisa helaian buah hatinya pada pusara hati, pada detik itu aku memahami.

Aku memahami bahwa langit kelabu, burung yang membisu, serta lembayang di petang itu, takkan pernah tinggal di sisiku.

Aku menyadari, tetapi aku takkan pernah membenci; takkan pernah menyesali merelakanmu pergi.

Hari telah menemu malam yang dinginnya tak terperi, seolah ia datang merengkuhku yang diselimuti sepi. Kini hanya ada aku dan temaram bilik sempit sebagai penawar adiksi, sebagai guru terbaik agar aku berani mencinta lagi.

Yang Belum Usai Akan Terus Tersemai

Sebelum saya pikir air mata saya sudah betul-betul habis, ternyata masih ada yang tersisa, lengkap dengan kecewa. Namun, saya pilih air mata untuk menjadi perantara; penyembuh luka; mengantarmu pada perjalanan berikutnya.

Pada akhirnya, kita hanyalah teman perjalanan yang tidak kebetulan bertemu pada satu simpang. Sebelum pada simpang berikutnya, kita memilih arah yang berbeda. Saya perlu mengatakan bahwa saya menikmati perjalanan bersamamu. Meski memang tidak seluruhnya menyenangkan, tapi bukankah perjalanan lebih bermakna daripada tujuan?

Meski cara pamitmu meningalkan tanya baru, membuat saya belajar kembali bahwa tidak semua hal akan terjawab sesaat setelah tanya itu muncul. Namun, saya berkeyakinan barangkali dengan cara itulah nanti kita akan bertemu lagi di semesta yang lain; kehidupan berikutnya. Sebab, yang belum usai akan terus tersemai.

Mungkin saat ini kamu bisa menutup halaman-halaman ini. Sebab, kamu telah sampai pada akhir dari satu cerita yang berhasil saya tuangkan di sini. Mungkin lagi nanti, ada satu buku yang tidak akan pernah habis kamu baca. Sebab, kita sama-sama sibuk menuliskannya dan tidak menginginkan kata “hilang” atau “pergi” menjadi penutup cerita.

Duka Yang Berkuasa

Untuk segala duka yang berkuasa, gema-gema gundah yang mengangkasa, serta segala sesak tak kasat mata. Redalah, reda. Kepada jiwa-jiwa pencemas, dengan isi kepala penuh tanya-tanya, juga hati yang patah dan hilang asanya. Tenanglah, tenang. Untuk seluruh riuh-riuhnya keluh, untuk badai yang tak lelah mengguruh. Teduhlah, teduh. Kepada selaksa sembilu yang menekuk bahu-bahu rapuh, pun kepada luka-luka yang pilunya utuh. Sembuhlah, sembuh.

Kini melangitlah, melangit. Segala doa senyap penuh harap, kepada yang empunya segala sejahtera. Jadi damailah, damai.