Duka Yang Berkuasa

Untuk segala duka yang berkuasa, gema-gema gundah yang mengangkasa, serta segala sesak tak kasat mata. Redalah, reda. Kepada jiwa-jiwa pencemas, dengan isi kepala penuh tanya-tanya, juga hati yang patah dan hilang asanya. Tenanglah, tenang. Untuk seluruh riuh-riuhnya keluh, untuk badai yang tak lelah mengguruh. Teduhlah, teduh. Kepada selaksa sembilu yang menekuk bahu-bahu rapuh, pun kepada luka-luka yang pilunya utuh. Sembuhlah, sembuh.

Kini melangitlah, melangit. Segala doa senyap penuh harap, kepada yang empunya segala sejahtera. Jadi damailah, damai.

I Never Thought Would Happen

Watching someone fall out of love with you is always hard. Battling whether you should just ignore it then stay, or let them go-is even harder. You know it all along, you feel it in your bones, but it’s just hard, to let them go.

To stay, is a nightmare too. Watching someone forcing themselves to be with you. Wondering what will happen next if you keep on holding onto this. Slowly, shattering you into pieces.

Feels like whatever you choose will hurt you in many ways possible. But is it better to end it sooner? to get hurt sooner?

You let out a deep sigh. “Just go.” you finally said it.

Tuan-Puan Keraguan

Duduk dan dengarkanlah
Sebuah cerita tentang sepasang anak manusia yang takut jatuh cinta
Takut semuanya tak bisa lagi jadi sama, katanya

Sang tuan bergelut dalam keraguannya untuk berusaha mengambil hati
Sang puan tidak merasa pantas untuk dicintai
Juga tidak merasa berhak untuk mencintai

Lantas bagaimana tuan mampu untuk bermimpi memiliki
Hingga akhirnya berujung dipendam sendiri

Padahal doa mereka melangit Bersama
Dan makhluk langit kompak mengaminkannya

Lantas Apa?

Baik di dalam maupun di luar sangkar
Aku adalah seuntai tragedi besar
Melintas di tiap pendar-pendar
Yang mereka tertawakan tak berdasar

Kata mereka
Hidupku bukan sebuah layang-layang
Yang dapat seenaknya kugulung benang
Saat aku tak lagi dapat tenang

Atau bahkan kugunting bagian yang jadikan aku terpelanting

Lantas, Tuhanku
Hidup seperti apa yang Kau berikan padaku?

Seseorang Yang Hanya Bisa Saya Temui Dalam Ilusi

untuk seseorang yang hanya bisa saya temui dalam ilusi;

maaf bila rindu ini keterlaluan
rindu yang tak pernah kenal waktu dan keadaan
yang membuat mata saya tak pernah benar-benar terlelap meskipun dalam keheningan
pun yang membuat tiap hari tak karuan

pada sebuah angan yang melangit
izinkan saya memelukmu erat
tak terlepas meskipun saya sekarat

kenapa berlalu begitu cepat?

INI SUDAH PASTI PEMBUNUHAN

“Ini sudah pasti pembunuhhan”
Ujar tokoh detektif dalam buku yang sedang saya baca
“Sebab, lihat di meja itu, korban baru saja membeli sebuket bunga untuk ulang tahun ibunya besok. Biasanya taka ada orang yang ingin mati dalam keadaan hendak merencanakan sesuatu yang berjangka pendek.”

Saya tutup buku itu, lalu saya letakkan di pinggir balkoni.
Analisis yang payah.
Sama payahnya dengan yang bilang, “Biasanya orang kan membersihkan kamarnya dulu sebelum bunuh diri.”
Padahal tahu tidak, berapa banyak orang yang “pergi” dalam keadaan kamar seperti kapal pecah?
Sehabis membeli tiket bioskop, mungkin?
Sepulang membeli lekker di Gerlong?
Atau bahkan setelah mengorder ayam geprek ceban via online?

Sial. Jadi teringat, saya sempat memesan sebuah food chopper via online.
Tadinya saya ingin mencoba resep siomay udang, tapi rasanya itu sudah tidak penting lagi.
Apakah orang yang menemukan saya nanti akan berpikir bahwa ada kemungkinan saya dibunuh karena pesanan food chopper baru tiba?
“Tak mungkin ia bunuh diri, lihat saja resep siomay udang yang tertempel di pintu kulkasnya.”
Membayangkan itu, saya tersenyum geli

Persembahan Kehilangan

Teramat berat bagiku untuk kulepas
meski pedang-pedang menebas
meski hujan memukul keras wajah
membasuh bibir sampai basah
dan suara di halaman penuh lamunan
meski cinta bagiku, tapi tidak untukmu

Aku tak kenal bisikan hati sendiri
begitu bernyali saat menyatroni lagi
seolah namaku terpasung di ruang luka
menatap tembok pecah dan kursi patah
mereka yang kuat adalah biang pemikat
sementara aku adalah vas pecah yang tak terlihat

Dan tiap detik jam adalah jantung berdebar
menatap rindu sendiri sedang terbakar
disebar kata-kata dan berkelakar
meski tersesar di hutan penuh keputusan
dan belari di antara jurang kebodohan

Lihatlah tanda tanya ini sekali lagi, kekasih
tentang seorang petualang yang hilang
meski ego yang sedang disembunyikan
hati yang tak benderang sekarang
kebahagianya terus dilawan

Dan aku sendiri menguburmu dalam kalbu
di tanah penuh kembang dan lagu-lagu
serta nama-nama yang segera kujaga
meski kau dan aku sudah terpesona
kita mengemudi sampai hilang kendali
di jalan-jalan kemunafikan kita ini

Lihatlah, mata-mata mulai gerimis lagi
dalam hati yang tak pernah jadi pelangi
biar kata-kata bunuh diri
meski untuk dikenang lagi
pergi!

Sekat Semesta

Nada-nada suaramu; elok mengalun,
sedang sudut mata semakin mengembun.
Dinding waktu yang egois untuk ditembus,
membuat hamparan asa semakin tandus.

Pada pengembaraan yang panjang,
aku merenda ilusi layaknya kewajiban.
Saat riuh dalam kepala menanyakan rumah,
ke arah pernah atau jalan yang telah punah?

Ada potret lusuhmu dalam kepala,
mengiringi helaan di pekatnya nestapa.
Kau masih anggun di peraduan,
meski kita hancur dikoyak kehilangan.

Entah semesta yang pandai bercanda,
atau aku yang terlalu berharap bahagia.
Ekspektasiku terhadap hangatnya cinta,
hanya merajut mendung di pelupuk mata.

Jarak yang tak bisa dilipat,
kita yang pernah terikat lalu lenyap.
Membangunkan sesal dari tidur panjang,
dan luka menjadi satu-satunya hidangan.

Lalu; kita mengenyam pahitnya perpisahan,
bukan hangat afeksi yang pernah didambakan.

Usang dan Terbuang

Aku laksana sebuah buku usang yang terbuang. Tergeletak sembarang. Seakan tanpa kepemilikan. Hingga dikelilingi sarang binatang yang umumnya berkaki delapan. Dibiarkan lapuk di sudut ruang. Terabaikan.

Pun laksana lengan tua renta. Tak mampu menggapai banyak hal dalam waktu sesingkat-singkatnya. Tak mampu bergerak bebas seperti halnya di usia muda. Terkikis jatah usia, melemah pula tenaga yang melekat dalam raga.

Perihal waktu yang terus berlalu. Tentang semesta yang kerapkali ikut meragu. Apakah aku mampu meredam luka masa lalu? Apakah kepiluanku masih akan terus menderu? Apakah aku masih akan berkutat dalam kenangan rumit masa lalu?

Pada akhirnya aku memilih bersyukur mendapatkan luka. Berdamai dengan semesta dan seisinya. Sebab luka membuatku terlupa. Perihal beban maupun dendam dalam ruang gelap bernama jiwa.

Sebab luka pada akhirnya memberikan pemahaman. Bahwa pada hakikatnya, ada banyak hal yang cukup dihadapi dengan keikhlasan.
Ada banyak hal yang lebih baik dilepaskan.

Dari Si Egois

Aku benar-benar tak ingin berbagi tentangmu,
tak ada negosiasi tentang kesayanganku,
dan bukan kekanakan,
bila harus merasa pantas menggandengmu,
aku akan meremukkan mereka,
yang berani merusak bahagiaku.

Bagaimanapun,
dengan siapapun,
menjalin hubungan apapun,
baik sedang kasmaran,
maupun berteman,
selalu saja ada yang ingin membubarkan.

Kau ada dalam sebuah lingkaran yang luar biasa,
dimana disana dapat kau temui cinta,
atau rasa sayang,
perhatian,
kecemasan,
kesenangan,
dan kesedihan.
Gesekkan yang luar biasa,
dan persaingan,
bukanlah hal yang harus membuat gerah.

Meski semuanya,
memang terkadang membuat hubunganmu matang,
tetapi jika ada yang merusak,
itu berbeda cerita,
sebab yang dicari-cari adalah bagian yang retak.

Karena mereka hanya tahu cara merusakkan,
bukan membina,
apalagi menciptakan.
Rasa.

Dan mengenai “demi kebaikanmu” itu,
sebenarnya mereka tak terlalu perduli hingga rela “menyelidiki” untuk “melindungimu”.

Ku pikir,
kau harus tahu itu.