Damai sudah aku dengan hancur yang kemarin. Beruntunglah aku tak lebur. Sudah kurampungkan meski sisanya kubiarkan rumpang, reruntuhnya tak akan mampu kembali utuh, birunya belum pudar sepenuhnya, akan kusamarkan lewat pura-pura, atau kalau perlu akan kubawa lari menyendiri—pergi.
Kita memang tak akan mampu menghalau takdir, apalagi harus mencegat hadir, beberapa kehilangan harus kujumpai secara terang-terangan, segala yang pernah pada akhirnya akan tetap punah, yang dulu kusebut pantas akan berujung pada lepas, kubiarkan sorai kita tercerai berai.
Dunia memang tempat lahirnya tanda tanya, buta dan meraba-raba, kita dibenturkan dengan pemahaman yang saling keliru, pandangan yang tak melulu satu, sampai akhirnya kujumpai titik di mana menerima adalah jalan keluarnya, kupahami bahwa tak semua kejadian dapat terlihat jelas dari kacamata kita yang terbatas.