Sorai Tercerai Berai

Damai sudah aku dengan hancur yang kemarin. Beruntunglah aku tak lebur. Sudah kurampungkan meski sisanya kubiarkan rumpang, reruntuhnya tak akan mampu kembali utuh, birunya belum pudar sepenuhnya, akan kusamarkan lewat pura-pura, atau kalau perlu akan kubawa lari menyendiri—pergi.

Kita memang tak akan mampu menghalau takdir, apalagi harus mencegat hadir, beberapa kehilangan harus kujumpai secara terang-terangan, segala yang pernah pada akhirnya akan tetap punah, yang dulu kusebut pantas akan berujung pada lepas, kubiarkan sorai kita tercerai berai.

Dunia memang tempat lahirnya tanda tanya, buta dan meraba-raba, kita dibenturkan dengan pemahaman yang saling keliru, pandangan yang tak melulu satu, sampai akhirnya kujumpai titik di mana menerima adalah jalan keluarnya, kupahami bahwa tak semua kejadian dapat terlihat jelas dari kacamata kita yang terbatas.

Jika Garis Usaiku Adalah Kamu

sejatinya aku ini mirip air
aku menyusut agar tertampung dalam kotak kaku yang diberikan oleh hidup padaku
aku menjamah seluruh permukaan yang dapat kuraih, tanpa pamrih, tanpa peduli bahwa itu memberiku perih

aku tumpah-ruah, membuat sekitar-sekitarku tergelincir dan berdarah
aku terus mengalir di saat aku ingin semuanya berakhir

selama nyaris dua dekade aku menjajaki bumi
aku benci dimiripkan dengan sesuatu yang banyak berikan kehidupan
aku benci disamakan dengan hal yang ditakdirkan untuk terus memberi
aku benci harus terus menyusuri gunung lembah bumi ini

aku hanya ingin istirahat; undur diri

sampai akhirnya aku ketemu kamu

ketika aku melihat ke dalam matamu
aku tahu bahwa aku tidak lagi ingin menjadi seperti air
aku ingin menjadi air itu sendiri
aku ingin menyusut dan menelusup memasuki sukmamu
aku ingin menjamah seluruh sudut hidupmu hingga aku dapat mengingatnya semudah aku mengingat balik telapakku sendiri
aku tidak ingin kamu terjembap dan luka
namun aku tetap ingin tumpah-ruah hingga aku dapat terus memberi padamu tanpa khawatir punah

karena kamu adalah muaraku
dan aku rela mengalir setiap waktu jika garis usaiku adalah kamu

Menjadi Malaikat

aku mendengar bising
tiap kali mataku terbuka,
walaupun sedang hening
tiada suara

aku mendengar bising
bukan sebuah bisikan berupa aba-aba di telinga
bukan pula cerca dari mulut orang-orang
melainkan bising yang acapkali terlampir kusut ibarat benang yang terlampau semrawut dalam kepala;
kepala milikku tentunya

sering kali aku mendengar mandat untuk mengakhiri hidup yang datang dari benakku sendiri
entah bermula dari mana, tetapi yang jelas, perih yang muncul terkadang tumbuh dalam dada
kemudian menjalar merambat pada liku-liku hingga ujung kepala
terkadang pula sebaliknya, tetapi yang diriku tahu dengan jelas adalah;

aku ingin menjadi malaikat
malaikat yang berwenang untuk melenyapkan diriku sendiri

namun, bukankah tak perlu menjadi malaikat untuk melenyapkan nyawa ini?

Sekiranya

sekiranya ketika tahun baru tiba
sekiranya hati kami dipenuhi sukacita
ayam rica-rica yang dimakan bersama
pun iga bakar khas ibu tercinta
dengan senyum ayah-ibu yang mempesona

sayangnya,
kami mungkin hanya lelah berpura-pura
melihat ayah-ibu hadir bersama kami di meja

Tentang Rasa Kehilangan Yang Sesungguhnya

Senyum rapuhmu terasa perih.
Labil mulutmu mengalahkan jiwa.
Cakap doa, berprasangka buruk.
Puan yang menjadi duniaku,
kini menjadikanku seperti ini.

Hipersomnia saat itu,
terjadi padaku yang terlampau sering.
Tanganku diguncangkan seorang tuan,
dengan wajah merahnya penuh emosi.

Langkahku berderap bising.
Aku menghampiri puanku.
Ia terkapar lemah.
Bibirnya menggertak, tak niat terbuka.
Aku mengenggam, meraihnya cepat.
Mengecup pipinya perlahan,
dengan terjunan air mata.

Matanya terpejam.
Lemas, dinginnya tangan itu merambat.
Denyut tubuhnya perlahan putus.
Seluruh tenaganya terlepas.
Berhambur, menuju pangkuanku.

Tangisku ialah pembuka suatu gerbang.
Menuju kiamatku, yang saat itu datang.
Sehancur-hancurnya, jiwaku binasa.
Sampai saat ini,
aku tak tahu caranya untuk bangun.

Mom, can I hold you? I mean, I want to follow you. I’m getting my apocalypse rn.

Kelindan Hati Yang Telah Lama Mati

Lagi-lagi langit pagi itu begitu kelabu dengan gumpalan awan yang enggan bergerak tinggalkan titik-titik singgasana, seolah mereka memahami bahwa ada hati yang tengah berteduh di bawah naungannya.

Lagi-lagi burung pagi itu tak berkicau sebagaimana mereka ramai menyapa di tiap aku membuka mata, seolah mereka merasakan bahwa ada rasa yang masih enggan untuk terucap hingga habis masa.

Tiba pada sebuah petang yang mengantarkanku menuju pusat kelindan hati yang saya kubur dalam-dalam sebab degupnya telah lama mati.

Petang itu begitu terasa dingin, sama seperti petang di bulan lalu hari kemarin.

Aku kembali menyaksikan bagaimana semburat keunguan di kaki langit barat melambaikan merah sisa helaian buah hatinya pada pusara hati, pada detik itu aku memahami.

Aku memahami bahwa langit kelabu, burung yang membisu, serta lembayang di petang itu, takkan pernah tinggal di sisiku.

Aku menyadari, tetapi aku takkan pernah membenci; takkan pernah menyesali merelakanmu pergi.

Hari telah menemu malam yang dinginnya tak terperi, seolah ia datang merengkuhku yang diselimuti sepi. Kini hanya ada aku dan temaram bilik sempit sebagai penawar adiksi, sebagai guru terbaik agar aku berani mencinta lagi.

Ibun Tiba-Tiba Pergi

Semua tiba-tiba
Ibun “pergi” kata mereka
Rumah ramai seketika

Tiba-tiba aku didudukkan di teras
Kenapa semua menatapku iba?
Disuruh ikhlas katanya

Tiba-tiba aku digandeng berjalan beriringan
Melihat sekeliling penuh kuburan,
Siapa yang dimakamkan?
Kenapa ibun dibiarkan berbaring di galian?
Kenapa ibun dipakaikan kain kafan?

Ibun tidak pernah muncul setelah itu
Sayang sekali, padahal sanak saudara berdatangan
Semua orang membicarakan kebaikan ibun,
Tapi ibun tetap tidak bergabung dalam obrolan

Tiba-tiba aku kesepian diantara ramainya suara
Kenapa aku sesak sendirian?
Padahal semua orang bernafas seperti biasa
Kenapa pipiku basah air mata?

Tiba-tiba telinga berdenging
Tiba-tiba kepala berputar

Ibun sudah tidak ada ya?

Yang Belum Usai Akan Terus Tersemai

Sebelum saya pikir air mata saya sudah betul-betul habis, ternyata masih ada yang tersisa, lengkap dengan kecewa. Namun, saya pilih air mata untuk menjadi perantara; penyembuh luka; mengantarmu pada perjalanan berikutnya.

Pada akhirnya, kita hanyalah teman perjalanan yang tidak kebetulan bertemu pada satu simpang. Sebelum pada simpang berikutnya, kita memilih arah yang berbeda. Saya perlu mengatakan bahwa saya menikmati perjalanan bersamamu. Meski memang tidak seluruhnya menyenangkan, tapi bukankah perjalanan lebih bermakna daripada tujuan?

Meski cara pamitmu meningalkan tanya baru, membuat saya belajar kembali bahwa tidak semua hal akan terjawab sesaat setelah tanya itu muncul. Namun, saya berkeyakinan barangkali dengan cara itulah nanti kita akan bertemu lagi di semesta yang lain; kehidupan berikutnya. Sebab, yang belum usai akan terus tersemai.

Mungkin saat ini kamu bisa menutup halaman-halaman ini. Sebab, kamu telah sampai pada akhir dari satu cerita yang berhasil saya tuangkan di sini. Mungkin lagi nanti, ada satu buku yang tidak akan pernah habis kamu baca. Sebab, kita sama-sama sibuk menuliskannya dan tidak menginginkan kata “hilang” atau “pergi” menjadi penutup cerita.

Aku Hidup Hari Ini

Aku hidup hari ini; melewati hari-hari yang semakin lama semakin membuat perut mual, serta jalanan pada pinggir kota yang dipenuhi oleh manusia dan penyangkalan akan apa yang seharusnya tandas, pun para titisan surga yang terinjak kaki para penindas

Pada suatu hari, kita akan menyadari bahwa dunia memang tidak pernah berlaku adil pada setiap kepala yang dipenuhi kegaduhan abadi; suara-suara yang meminta mereka mati, orang-orang yang membakar habis sisa-sisa kasih yang mungkin telah dengan susah payah mereka kumpulkan sejak masih dini.

Sebelum kedukaan yang menyala ini membakar habis segala yang ada, setiap aksara yang aku tulis saat ini akan menjadi penanda bahwa aku pernah hidup—setidaknya, untuk hari ini. Aku hidup hari ini.

Jagatraya, Jagatraya, Jagatraya

Jagatraya, Jagatraya, Jagatraya

Jagatraya, aku sudah mencintaimu dengan sempurna; dengan segala yang aku punya
Jadi, bisakah kamu beri manusia nelangsa ini secuil kasihmu yang megah?

Jagatraya, masa kita tak lagi lama, bintang berguguran Bersama mobil-mobil terbang yang kehilangan kemampuan

Para professor sudah kalah dari kuasa semesta dan memilih menyerah
Jagatraya, sebelum ragaku jadi puing paling merana, bolehkah aku mencumbu cintamu?
Agar aku bisa merasa bahagia paling agung sebelum perayaan kehancuran paling akbar dimulai

Jagatraya, aku ingin berdansa denganmu di kala fajar
Sudah ku pinjam tempat paling barat, sebab nanti fajar berada di sana

Jagatraya, Jagatraya, Jagatraya, aku meregang nyawa dalam nyala baskara yang mencumbu sebab engkau tak sudi cinta manusia nelangsa sepertiku

Jagatraya, Jagatraya, Jagatraya, lihatlah fajar di barat sana
Menunggu kita untuk bersumpah Bersama selamanya (yang pada hakekatnya hanya sejenak sebab selamanya akan segera sampai)

Jagatraya, Jagatraya, Jagatraya, panggung untuk berdansa kita telah direnggut kehancuran yang angkuh dan aku tinggal separuh

Jagatraya, Jagatraya, Jagatraya, beri aku ciummu untuk terakhir kali karena sadarku tinggal sedikit lagi

Jagatraya, Jagatraya, Jagatraya, yang kuminta cium, cumbu, dan pelukmu
Tapi mengapa yang kamu beri puing semesta yang remukkan aku?

Jagatraya, Jagatraya, Jagatraya, aku mati karena cintaku sendiri