Can’t Save Us

It still hurts me, the fact that i can’t save us.

It’s kinda hurting me to say it now; but I hope, later in the future, when I look back at this moment, I’ll be glad I did’nt make it. I’ll be grateful I couldn’t save us.

Cincin atau Luka Batin

Dan ini tentang kita, hubungan yang penuh dengan berbagai drama gila hidup yang akhirnya bisa kita maklumi. Kita adalah sepasang sejoli yang tak jauh dari wacana-rencana dan selalu berkutat di atas bahagia dan duka. Kamu si jenius ceria, sedang aku si ambius gila.

Kadang aku bisa mengimbangimu, kadang tidak, begitupun sebaliknya.

Ada banyak sekali momen dimana kita terbakar ego. Lalu sejenak berhenti, mengambil jeda, membenarkan perasaan, memahami diri dengan harapan-harapan lebih baik di depan sana.

Entah itu cincin, entah itu luka batin. Kita tak pernah ambil pusing. Lalu selalu, hangat pelukmu adalah obat paling ampuh selain komunikasi. Kita bisa baik-baik saja dan tidak baik-baik saja di waktu yang acak. Kita selalu mencoba berbenah, lagi dan lagi.

Dari semuanya, terpenting, kita sudah bisa bertahan sejauh ini. Cukup mengejutkan ternyata kita bisa saling menguatkan. Bisa saling menangis untuk banyak hal penting dalam hidup kita.

Satu doaku, “semoga hidup kita, trus, begini-gini saja” Semoga juga, kita selalu bisa mencintai apa adanya. Dalam tidur atau terjaga, sampai melingkar cincin di jari kita.

Di Bulan Baru

Kalau kamu bertanya apa harapanku di bulan ini, maka jawabanku sangat sederhana atau lebih tepatnya jawaban itu akan selalu sama seperti waktu itu dan nanti.

Aku ingin terus melihat matahri terbit di ufuk timur, menikmati ketoprak yang dijual depan rumah, menatap langit yang kadang dan mendung seperti suasana hati, dan juga aku ingin terus menjadi temanmu, bersamamu.

Maka satu-satunya cara adalah aku harus terus hidup dengan baik. Lebih tepatnya kita berdua. Dan aku harap jawabanku bisa membuatmu berpikir dan membayangkan seperti apa dirimu besok, minggu depan, dan seterusnya.

Keabadian Ia Dalam Diksi

Suatu saat aku mungkin terlupa perihal berapa puisi yang aku ciptakan soal dirinya. Atau berangkali melewatkan bilangan ganjil dan genap yang pernah dan akan aku habisnya bersamanya. Aku tidak takut sama sekali. Sampai kapan pun aku akan selalu tau kalau tulisa ini ada karena kehadirannya. Ia adalah diksi dari kalimat-kalimat ini yang aku rangkai sepenuh hati. Puisi ini lengkap karena namanya.

Teruntuk Tempat Pulang di Masa Mendatang

Sebelum mengenalmu, saya tidak tahu seperti apa kehidupan saya tanpa
kamu. Jatuh hati memang sering membuat manusia menjadi gila dan
mendadak sering hiperbola dalam berkata-kata, ‘kan? Saya tahu kamu pasti
mengalaminya. Mari saya perjelas.

Setelah mengenalmu, saya jadi punya gambaran. Saya mungkin tidak
betul-betul bisa membayangkannya, sebab hari-hari sebelum mengenalmu, adalah musim gugur yang teramat panjang, musim dingin tak kalah lekang. Namun, semua itu berakhir kala kamu datang. Seperti
akhir dari perang. Krisis telah lelah bertandang.

Bila saya tidak mengenalmu, mungkin saya belum tahu cara untuk jatuh
hati pada diri saya sendiri hari ini. Saya mungkin belum tahu mimpi mana yang masih layak untuk saya perjuangkan lagi. Saya mungkin belum tahu apakah saya mampu melihat kelayakan diri tanpa harus
kehilangan diri, lagi. Saya mungkin masih kebingungan untuk melepaskan diri dari pikiran-pikiran yang mendatangkan penderitaan.

Menjatuhkan hati padamu tidak pernah menjadi rencana saya, tidak juga masuk dalam resolusi tahunan.

Bahkan siapa pun berhak menyangka saya hanya jatuh hati hanya pada parasmu. Karena mungkin mereka tidak tahu rasanya menjatuhkan hati setelah melihat bagaimana jantungmu bekerja mengaliri seluruh kanal-kanal aorta dan vena, bagaimana paru-parumu mengatur pergi dan pulangnya napas-napas kehidupan yang kamu hirup dari lukisan-lukisan, seni-seni instalasi, buku-buku, uap americano panas, awan dan langit, sapaan kepiting dan pohon-pohon kecilmu, juga musik-musik yang telah memilih telingamu.

Saya harus bilang, nyatanya hatimu yang lapang memang layak dijadikan tempat pulang.

Setiap kali saya jatuh, kamu yang selalu mampu membuat saya bangkit kembali. Setiap kali kewarasan saya runtuh, kamu selalu mampu menarik saya kembali di sini, kini. Sebab, sebaik-baiknya hidup adalah saat ini, ketika saya bisa menuliskan perasaan-perasaan saya tentangmu yang entah akan sampai melalui angin atau hal-hal yang lain.

Terima kasih kamu telah memilih bumi untuk ditinggali. Saya senang bertemu
denganmu di kehidupan kali ini. Saya ingin kamu tahu bahwa kamu akan selalu dicintai oleh bagian dari diri saya, yang tidak sedetik pun tidak mencintaimu.
— yang selalu kaupercayai galaksinya dan akan selalu percaya pada galaksimu,

Kamu dan Semesta

Kian melekas,

Sekalipun telah habis diberantas

Masih membekas,

Sekalipun telah dibilas

Belum melepas,

Sekalipun telah dihempas

Dirimu tak membalas,

Sekalipun kurasa aku pantas

Alinea Terakhir

Alinea terakhir, paragraf yang hampir selesai.

Pada akhirnya semua menjadi hampir,

Hampir bersama,

Hampir saling membahagiakan,

Hampir yang tak pernah mudah ternyata.

Ada tawamu di ruas-ruas ruang di kepala.

Ia enggan beranjak setelah kamu terburu-buru menjauh; menjarak pagi itu dan enggan kembali walau sejenak.

Tentu kamu orang yang mampu membuatku jatuh hati dengan sangat mudah dan sederhana.

Nada bicaramu, perhatianmu, apakah semuanya beranjak menjadi baik belaka tanpa pernah ada rasa?

Rasanya tidak adil bagiku, semesta menjatuhkan hatiku dengan sederhana tapi tidak sebaliknya, benar-benar tidak sebaliknya.

Hingga saat aku menulis inipun tawamu masih terdengar akrab di telinga.

Aku harap kamu bahagia.

Harap-Harap Mati

Aku berhenti berharap. Pada manusia, pada apapun yang biasa kutitipkan doa. Aku diinjak-injak takdir. Ditertawai nasib. Diliputi getir. Seperti orang tanpa tahu arti dari hidup, seperti orang yang tidak mempercayai garis takdir, aku memilih untuk mati.

Karena hidup berjalan seperti malam dipeluk petir. Bagai siang di padang tak berair. Sakit. Sendu. Gundah. Semua perasaan menumpuk menyusun gunung antidepresan.

Tiada kesempatan bagiku untuk bahagia. Karena garis takdirku adalah untuk menjadi pelajaran bagi orang lainnya. Bahwa ada manusia penuh dengan siksa dunia. Yang tetap hidup bahkan ketika Tuhan mendorongnya dari tangga kebahagiaan. Yang menolak mati bahkan ketika malaikat Izrail menariknya dari kesadaran.

Dan bahwa manusia itu kemudian berhenti mencoba. Berhenti memberontak. Manusia itu kini tinggallah tulang berbalut kulit serta nadi, tanpa jiwa. Hidup dengan kalut dan mulai menyambut kematiannya dengan senang hati.

Dan kini tangannya ditusuk dengan belati.

Kini ia mati, dan takkan kembali.

Skenario Malam

Malam ini kepalaku riuh lagi. Menjelma labirin penuh dengan duri menindih badan, hingga rasanya setiap sendi teriris, pecah beradu bersama gigil.

Setiap jalan buntu yang kujumpai, ada tanya. Kalau bukan tanya, ya simpulan. Tapi mereka berwujud. Tuan tanya berwujud perwira yang membawa belati, sedang nona simpulan adalah penjagal yang berasal dari sudut pasar.

Keduanya sama-sama bersimbah darah. Darahku yang telah mengering atau masih segar berbau anyir.

Tiap riuh terjadi, mereka menungguku di labirin. Berusaha menusuk punggungku dengan belati atau memenggal kepalaku bersama ayam-ayam kampung yang kurus.

Lalu aku kembali ke hidupku, terbangun dengan tersenggal-senggal di kasurku. Penuh dengan isak dan keringat yang sesak. Sendirian. Lagi.

Aku harusnya bersimbah darah karena belati tuan tanya atau karena kapak nyonya simpulan.

Malam ini aku membuat skenario. Aku membunuh diriku di dalam kepalaku, supaya riuh menjadi lebih redup. Karena aku terlalu pengecut.

Menangislah Menangis

Sesak. Napasnya tercekat, kerongkongannya mengering. Bahkan air matanya enggan menetes. Semuanya tertahan, layaknya ada roda gerigi yang membantu rantai, justru membuat lantai tersebut lepas seketika. Tidak lagi bisa dikayuh, tak lagi bisa bergerak maju barang sedikitpun. Pertolonganpun nihil, berada di lapang luas nan berpenghuni. Kosong, sunyi, sepi yang bukan hanya menyiksa.

Menangislah, menangis.

Namun, indera penglihatan ini tetap berasa pada pendiriannya–mungkin sudah terlalu lelah juga. Helaan napas berat berulangkali, suara pukulan yang cukup keras berasal dari tangannya yang menyentuh dada.

Sesak, sungguh sesak. Tidak menemukan jalan pulang, pun pemilik arah pulang.