Malam ini kepalaku riuh lagi. Menjelma labirin penuh dengan duri menindih badan, hingga rasanya setiap sendi teriris, pecah beradu bersama gigil.
Setiap jalan buntu yang kujumpai, ada tanya. Kalau bukan tanya, ya simpulan. Tapi mereka berwujud. Tuan tanya berwujud perwira yang membawa belati, sedang nona simpulan adalah penjagal yang berasal dari sudut pasar.
Keduanya sama-sama bersimbah darah. Darahku yang telah mengering atau masih segar berbau anyir.
Tiap riuh terjadi, mereka menungguku di labirin. Berusaha menusuk punggungku dengan belati atau memenggal kepalaku bersama ayam-ayam kampung yang kurus.
Lalu aku kembali ke hidupku, terbangun dengan tersenggal-senggal di kasurku. Penuh dengan isak dan keringat yang sesak. Sendirian. Lagi.
Aku harusnya bersimbah darah karena belati tuan tanya atau karena kapak nyonya simpulan.
Malam ini aku membuat skenario. Aku membunuh diriku di dalam kepalaku, supaya riuh menjadi lebih redup. Karena aku terlalu pengecut.