Aku berhenti berharap. Pada manusia, pada apapun yang biasa kutitipkan doa. Aku diinjak-injak takdir. Ditertawai nasib. Diliputi getir. Seperti orang tanpa tahu arti dari hidup, seperti orang yang tidak mempercayai garis takdir, aku memilih untuk mati.
Karena hidup berjalan seperti malam dipeluk petir. Bagai siang di padang tak berair. Sakit. Sendu. Gundah. Semua perasaan menumpuk menyusun gunung antidepresan.
Tiada kesempatan bagiku untuk bahagia. Karena garis takdirku adalah untuk menjadi pelajaran bagi orang lainnya. Bahwa ada manusia penuh dengan siksa dunia. Yang tetap hidup bahkan ketika Tuhan mendorongnya dari tangga kebahagiaan. Yang menolak mati bahkan ketika malaikat Izrail menariknya dari kesadaran.
Dan bahwa manusia itu kemudian berhenti mencoba. Berhenti memberontak. Manusia itu kini tinggallah tulang berbalut kulit serta nadi, tanpa jiwa. Hidup dengan kalut dan mulai menyambut kematiannya dengan senang hati.
Dan kini tangannya ditusuk dengan belati.
Kini ia mati, dan takkan kembali.