Menangislah Menangis

Sesak. Napasnya tercekat, kerongkongannya mengering. Bahkan air matanya enggan menetes. Semuanya tertahan, layaknya ada roda gerigi yang membantu rantai, justru membuat lantai tersebut lepas seketika. Tidak lagi bisa dikayuh, tak lagi bisa bergerak maju barang sedikitpun. Pertolonganpun nihil, berada di lapang luas nan berpenghuni. Kosong, sunyi, sepi yang bukan hanya menyiksa.

Menangislah, menangis.

Namun, indera penglihatan ini tetap berasa pada pendiriannya–mungkin sudah terlalu lelah juga. Helaan napas berat berulangkali, suara pukulan yang cukup keras berasal dari tangannya yang menyentuh dada.

Sesak, sungguh sesak. Tidak menemukan jalan pulang, pun pemilik arah pulang.