Senyum rapuhmu terasa perih.
Labil mulutmu mengalahkan jiwa.
Cakap doa, berprasangka buruk.
Puan yang menjadi duniaku,
kini menjadikanku seperti ini.
Hipersomnia saat itu,
terjadi padaku yang terlampau sering.
Tanganku diguncangkan seorang tuan,
dengan wajah merahnya penuh emosi.
Langkahku berderap bising.
Aku menghampiri puanku.
Ia terkapar lemah.
Bibirnya menggertak, tak niat terbuka.
Aku mengenggam, meraihnya cepat.
Mengecup pipinya perlahan,
dengan terjunan air mata.
Matanya terpejam.
Lemas, dinginnya tangan itu merambat.
Denyut tubuhnya perlahan putus.
Seluruh tenaganya terlepas.
Berhambur, menuju pangkuanku.
Tangisku ialah pembuka suatu gerbang.
Menuju kiamatku, yang saat itu datang.
Sehancur-hancurnya, jiwaku binasa.
Sampai saat ini,
aku tak tahu caranya untuk bangun.
Mom, can I hold you? I mean, I want to follow you. I’m getting my apocalypse rn.