Lagi-lagi langit pagi itu begitu kelabu dengan gumpalan awan yang enggan bergerak tinggalkan titik-titik singgasana, seolah mereka memahami bahwa ada hati yang tengah berteduh di bawah naungannya.
Lagi-lagi burung pagi itu tak berkicau sebagaimana mereka ramai menyapa di tiap aku membuka mata, seolah mereka merasakan bahwa ada rasa yang masih enggan untuk terucap hingga habis masa.
Tiba pada sebuah petang yang mengantarkanku menuju pusat kelindan hati yang saya kubur dalam-dalam sebab degupnya telah lama mati.
Petang itu begitu terasa dingin, sama seperti petang di bulan lalu hari kemarin.
Aku kembali menyaksikan bagaimana semburat keunguan di kaki langit barat melambaikan merah sisa helaian buah hatinya pada pusara hati, pada detik itu aku memahami.
Aku memahami bahwa langit kelabu, burung yang membisu, serta lembayang di petang itu, takkan pernah tinggal di sisiku.
Aku menyadari, tetapi aku takkan pernah membenci; takkan pernah menyesali merelakanmu pergi.
Hari telah menemu malam yang dinginnya tak terperi, seolah ia datang merengkuhku yang diselimuti sepi. Kini hanya ada aku dan temaram bilik sempit sebagai penawar adiksi, sebagai guru terbaik agar aku berani mencinta lagi.