Jagatraya, Jagatraya, Jagatraya
Jagatraya, aku sudah mencintaimu dengan sempurna; dengan segala yang aku punya
Jadi, bisakah kamu beri manusia nelangsa ini secuil kasihmu yang megah?
Jagatraya, masa kita tak lagi lama, bintang berguguran Bersama mobil-mobil terbang yang kehilangan kemampuan
Para professor sudah kalah dari kuasa semesta dan memilih menyerah
Jagatraya, sebelum ragaku jadi puing paling merana, bolehkah aku mencumbu cintamu?
Agar aku bisa merasa bahagia paling agung sebelum perayaan kehancuran paling akbar dimulai
Jagatraya, aku ingin berdansa denganmu di kala fajar
Sudah ku pinjam tempat paling barat, sebab nanti fajar berada di sana
Jagatraya, Jagatraya, Jagatraya, aku meregang nyawa dalam nyala baskara yang mencumbu sebab engkau tak sudi cinta manusia nelangsa sepertiku
Jagatraya, Jagatraya, Jagatraya, lihatlah fajar di barat sana
Menunggu kita untuk bersumpah Bersama selamanya (yang pada hakekatnya hanya sejenak sebab selamanya akan segera sampai)
Jagatraya, Jagatraya, Jagatraya, panggung untuk berdansa kita telah direnggut kehancuran yang angkuh dan aku tinggal separuh
Jagatraya, Jagatraya, Jagatraya, beri aku ciummu untuk terakhir kali karena sadarku tinggal sedikit lagi
Jagatraya, Jagatraya, Jagatraya, yang kuminta cium, cumbu, dan pelukmu
Tapi mengapa yang kamu beri puing semesta yang remukkan aku?
Jagatraya, Jagatraya, Jagatraya, aku mati karena cintaku sendiri