Teramat berat bagiku untuk kulepas
meski pedang-pedang menebas
meski hujan memukul keras wajah
membasuh bibir sampai basah
dan suara di halaman penuh lamunan
meski cinta bagiku, tapi tidak untukmu
Aku tak kenal bisikan hati sendiri
begitu bernyali saat menyatroni lagi
seolah namaku terpasung di ruang luka
menatap tembok pecah dan kursi patah
mereka yang kuat adalah biang pemikat
sementara aku adalah vas pecah yang tak terlihat
Dan tiap detik jam adalah jantung berdebar
menatap rindu sendiri sedang terbakar
disebar kata-kata dan berkelakar
meski tersesar di hutan penuh keputusan
dan belari di antara jurang kebodohan
Lihatlah tanda tanya ini sekali lagi, kekasih
tentang seorang petualang yang hilang
meski ego yang sedang disembunyikan
hati yang tak benderang sekarang
kebahagianya terus dilawan
Dan aku sendiri menguburmu dalam kalbu
di tanah penuh kembang dan lagu-lagu
serta nama-nama yang segera kujaga
meski kau dan aku sudah terpesona
kita mengemudi sampai hilang kendali
di jalan-jalan kemunafikan kita ini
Lihatlah, mata-mata mulai gerimis lagi
dalam hati yang tak pernah jadi pelangi
biar kata-kata bunuh diri
meski untuk dikenang lagi
pergi!