Nada-nada suaramu; elok mengalun,
sedang sudut mata semakin mengembun.
Dinding waktu yang egois untuk ditembus,
membuat hamparan asa semakin tandus.
Pada pengembaraan yang panjang,
aku merenda ilusi layaknya kewajiban.
Saat riuh dalam kepala menanyakan rumah,
ke arah pernah atau jalan yang telah punah?
Ada potret lusuhmu dalam kepala,
mengiringi helaan di pekatnya nestapa.
Kau masih anggun di peraduan,
meski kita hancur dikoyak kehilangan.
Entah semesta yang pandai bercanda,
atau aku yang terlalu berharap bahagia.
Ekspektasiku terhadap hangatnya cinta,
hanya merajut mendung di pelupuk mata.
Jarak yang tak bisa dilipat,
kita yang pernah terikat lalu lenyap.
Membangunkan sesal dari tidur panjang,
dan luka menjadi satu-satunya hidangan.
Lalu; kita mengenyam pahitnya perpisahan,
bukan hangat afeksi yang pernah didambakan.