Usang dan Terbuang

Aku laksana sebuah buku usang yang terbuang. Tergeletak sembarang. Seakan tanpa kepemilikan. Hingga dikelilingi sarang binatang yang umumnya berkaki delapan. Dibiarkan lapuk di sudut ruang. Terabaikan.

Pun laksana lengan tua renta. Tak mampu menggapai banyak hal dalam waktu sesingkat-singkatnya. Tak mampu bergerak bebas seperti halnya di usia muda. Terkikis jatah usia, melemah pula tenaga yang melekat dalam raga.

Perihal waktu yang terus berlalu. Tentang semesta yang kerapkali ikut meragu. Apakah aku mampu meredam luka masa lalu? Apakah kepiluanku masih akan terus menderu? Apakah aku masih akan berkutat dalam kenangan rumit masa lalu?

Pada akhirnya aku memilih bersyukur mendapatkan luka. Berdamai dengan semesta dan seisinya. Sebab luka membuatku terlupa. Perihal beban maupun dendam dalam ruang gelap bernama jiwa.

Sebab luka pada akhirnya memberikan pemahaman. Bahwa pada hakikatnya, ada banyak hal yang cukup dihadapi dengan keikhlasan.
Ada banyak hal yang lebih baik dilepaskan.